Fantasi dalam Depresi karena Skripsi




Ketika kita kuliah, akan ada masanya dimana kita harus menyelesaikan tugas akhir, salah satunya berbentuk skripsi. Proses skripsi yang punya berbagai rasa, dimana setiap orangnya memiliki pengalaman yang berbeda-beda dalam fase ini. Ada yang lancar-lancar saja sampai sidang skripsi, namun ada pula yang harus berulang kali berganti topik skripsi, membuat dirinya terlambat lulus. Dan inilah Tama, dengan sekelumit permasalahannya, membuatnya merasakan depresi di kala skripsi, sebelum akhirnya berhasil 'mengatasi' hal tersebut, dengan cara yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya.

PROLOG

Di kamarnya yang cukup sempit, Tama berkontemplasi mengenai perkembangan dalam hidupnya, salah satunya mengenai skripsinya yang sudah direvisi yang tak terhitung jumlahnya. Tidak lama setelahnya, Tama bangkit dan kembali menggapai laptopnya, melanjutkan kembali revisi skripsi dari dosen pembimbingnya.

“Ayo Tama, revisinya kudu bisa kelar malam ini. Ayo semangat, biar bisa cepat sidang. Ayo Tam, lu pasti bisa”

Kata-kata itulah yang sering Tama gumamkan, supaya dirinya dapat segera menyelesaikan skripsi yang menjemukan ini.

Tama mengerjakan skripsinya tanpa henti hari itu, hingga melewati tengah malam. Sampai akhirnya Tama tidak sadar bahwa alarm di kamarnya menyala, menunjukkan bahwa pagi sudah datang kembali.

Dengan diri yang merasa lelah, Tama pergi ke ruang makan, mengambil makanan untuk sarapan, sebelum nanti berangkat ke kampus untuk menemui dosen pembimbing skripsinya. Tidak lama kemudian, muncul Bapak yang sudah bersiap untuk berangkat kerja, dengan seragam kebesaran ala Aparatur Sipil Negara kekinian.

“Lho pak, kok tumben udah mau berangkat kerja? Masih pagi banget gini lho, Pak”

Kemudian, Bapak menanggapi Tama, yang sedang menyantap sarapannya.

“Bapak ono acara di kantor, jadi kudu berangkat pagi”

Dan kemudian, Bapak lanjut lagi.

“Oh iya le, gimana skripsimu? Kapan sidang? Ini udah mau buka periode wisuda baru to?”

Tidak hari ini saja Bapak menanyakan hal tersebut. Dan bukan kali pertama pula Tama kesal akan pertanyaan tersebut. Namun, Tama hanya bisa menjawab dengan kepala dingin, walaupun di dalamnya sudah berapi-api.

“Iyo pak, ini dari dosbing masih direvisi lagi, katanya masih ada yang kurang gitu. Dosbing masih kurang sreg di Bab 4 sama 5 soale, Pak”

Dan kurang lebih itulah jawaban yang Bapak terima dari Tama, jawaban yang sama sejak dua bulan lalu. Bapak dengan nada demanding menjawab Tama lagi.

“Hmm yawislah. Buruan dikelarke yo skripsinya. Udah setahun lebih lho skripsimu ndak kelar-kelar”

Lagi-lagi, Tama semakin panas, namun tidak bisa melawan orang tua satu-satunya ini. Tama hanya bisa merespon dengan halus.

“Iya pak, iya. Ini nanti meh ketemu dosbing sek, mau ngasihin revisian yang baru sekalian”

Setelah sedikit obrolan yang membuat Tama panas di pagi harinya, Bapak pamit berangkat kerja. Setelahnya, Tama hanya bisa merenungkan hal yang Bapak tanyakan tersebut. Dan itulah faktor pertama yang membuat Tama merasa depresi dengan skripsinya. Setelah sarapan, Tama bergegas pergi ke kampus, berharap dosen pembimbingnya ada di kampus.

INTI

Tama tiba di kampus, dan berlari menuju ruangan dosen pembimbingnya. Tidak lama kemudian, tibalah Tama di depan ruangan dosen pembimbingnya.

“Bismillah, semoga hari ini skripsiku bisa langsung di ACC. Aamiin”

Setelahnya, Tama mengetuk pintu ruang dosennya. Tidak lama kemudian, dosen pembimbingnya menyahut, meminta Tama untuk masuk, dan masuklah Tama ke ruangan dosennya itu.

“Gimana, Mas? Revisi yang saya kasih kemarin sudah diselesaikan?”

Tanya dosen pembimbing Tama tersebut, sambil melihat sekilas laporan skripsinya, bersamaan dengan laporan skripsi yang direvisi oleh dosen pembimbingnya.

“InshaAllah sudah saya selesaikan revisinya, Bu”

Tama berujar dengan penuh harapan bahwa laporan skripsi terbarunya akan di ACC. Dosen pembimbing Tama mengecek laporan skripsi garapan Tama, lembar demi lembar. Namun, dosen pembimbing Tama mendadak berhenti mengecek, kemudian menghentak mejanya, membuat Tama tersentak.

“MAS, KOK REVISIANNYA MASIH SAMA SAJA GINI? KAMU KERJAIN NGGA SIH REVISIAN DARI SAYA?”

Tama yang ketakutan, hanya bisa menjawab dengan gugup.

“T…..tapi Bu, ini kan sudah saya ganti di …..”

Di tengah pembelaan Tama tersebut, dosen pembimbingnya tidak mau tahu, dan langsung menyela Tama.

“HALAH, INI MASIH SAMA SAJA MAS! SAYA NGGA MAU BIMBINGAN LAGI KALO REVISIANMU KAYA GINI MAS!”

Tama hanya bisa terdiam, dan kemudian menjawab dengan penuh ketakutan.

“B…b…baik Bu, nanti saya coba revisi lagi lap…..”

Dosen pembimbing kembali menyela, tentu saja dengan nada tingginya.

“JANGAN COBA DOANG MAS, LANGSUNG REVISI! JANGAN KECEPETAN, TAPI JANGAN BURU-BURU MAS! SAYA NGGA MAU KAMU BIKIN REVISI KAYA GINI LAGI. NGERTI MAS!?”

Tama hanya bisa mengangguk kecil, menahan rasa yang campur aduk di hatinya. Akhirnya, Tama berpamitan kepada dosen pembimbingnya, dan keluar dengan penuh kekesalan, karena lagi-lagi harus merevisi laporan skripsinya.

Selagi Tama merenungkan lagi amukan dari dosen pembimbingnya tersebut, hadir Yadi, teman Tama yang baru saja tiba di kampus untuk bimbingan skripsi. Yadi, yang melihat Tama termenung, langsung menghampiri Tama.

“Tam, napa lu?”

Tama seketika menatap Yadi, dan melotot pada Yadi dengan penuh kemarahan, dan berteriak meluapkan kekesalannya.

“YA IYALAH, REVISI LAGI LAH NJING, PAKE NANYA LU”

Yadi kaget, dan kemudian berjalan meninggalkan Tama yang kesal, dan menggumam tenang.

“Si anjing malah ngegas. Tai lah, mending gue tinggal tu orang”

Setelah ditinggal Yadi, Tama bergegas untuk pulang.

Tama tiba di rumah. Raut mukanya masih menyimpan kekesalan terhadap dosen pembimbingnya. Tama langsung berjalan menuju ke kamar, kemudian meletakkan tasnya di lantai, dan lanjut rebahan di kasurnya.

Setelahnya, Tama mengambil HP nya, dan membuka Twitter. Tama men-scroll timeline nya, Tama mengetik tweet seperti ini.

“REVISI DULU, REVISI LAGI, REVISI TERUS. KAPAN GUA BISA LULUS SIH ANJING, CAPEK GUA DIGINIIN TERUS”

Tama menulis tweet tersebut, menuangkan segala kekesalan yang dialami hari itu. Tak mampu membendung kekesalannya tersebut, Tama kemudian tidur sejenak.

Tama akhirnya bangun, dan layaknya berbagai orang di masa kini, Tama langsung bergegas menggapai HP nya. Tama melihat notifikasi nya di Twitter ramai, berisikan beberapa reply, mention, dan retweet dari tweet yang dia tulis sebelumnya. Sembari menelusuri butiran notifikasi Twitter nya, Tama mendapati bahwa dirinya dihujat habis-habisan, dengan berbagai makian dan sumpah serapah yang diarahkan padanya, dan ada satu yang paling parah.

“MATI AJA LU JING, REVISI DOANG MASIH NGELUH AJA LU, SANA BALIK KE TK KALO NGELUH MULU”

Setelah melihat tweet yang menyakitkan tersebut, Tama langsung menutup HP nya, menjadi semakin kesal, terutama pada orang-orang yang berada di notifikasi tersebut, salah satunya adalah Yadi.

Tidak lama kemudian, Tama beranjak dari kasurnya untuk menuju ruang makan. Ternyata Bapak sudah pulang, dan sedang menyantap makan malam di ruang makan. Bapak yang melihat Tama, langsung bertanya pada Tama.

“Gimana tadi bimbingannya, le?”

Tama kemudian menjawab pertanyaan Bapak tersebut dengan tersedu-sedu.

“Yah, revisi lagi nih Pak”

Bapak menghentikan makannya, dan menghampiri Tama, sambil berteriak.

“APA? REVISI MENEH? YA ALLAH, KAMU NIAT NDAK SIH NGERJAIN SKRIPSI?”

Tama mendadak ketakutan, hanya dapat menjawab dengan pelan.

“Iya niat Pak…….”

Tama yang belum sempat menyelesaikan perkataannya, langsung disela oleh Bapak.

“NIAT GIMANA LE, KALO NIAT YA NDAK REVISI-REVISI MULU TO. GIMANA SIH KAMU LE, LE”

Raut muka Tama berubah, dari yang penuh ketakutan, menjadi penuh amarah yang tak dapat dia bendung lagi, membuatnya berteriak pula.

“SAYA SUDAH NGUSAHAIN REVISI INI PAK. NGERTIIN NAPA PAK”

Bapak yang tidak terima dengan respon Tama, kembali menimpali Tama dengan nada yang lebih tinggi, membuat suasana menjadi lebih menakutkan.

“KAMU YO HARUSNYA NGERTIIN BAPAK. BAPAK UDAH CAPEK-CAPEK KERJA DARI PAGI SAMPE SORE, CUMAN DEMI KULIAH KAMU LE. BAPAK SENDIRIAN BIAYAIN KAMU, KAMU KUDUNE NGERTIIN BAPAK TO LE”

Tama masih kesal, dan tetap melawan Bapak.

“YA INI SAYA UDAH NIAT NGERJAIN PAK, TAPI DOSBING MINTA REVISI TERUS GIMANA PAK”

Bapak semakin kesal, kemudian menggebrak meja makan, dan meninggalkan Tama, sembari berkata sambil menatap Tama.

“NGEYEL AJA KAMU. BANTAH AE BAPAKMU TERUS”

Bapak masuk ke kamarnya, menutup pintu kamar dengan keras. Tama hanya terdiam, kemudian bergegas ke kamarnya, dan langsung menerjang kasurnya, menampilkan raut muka penuh kekesalan. Tama menghela napas sejenak, dan kemudian berteriak.

“AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAASSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUU”

Seketika, Tama terbangun dengan muka yang sangat kusut, dan melakukan rutinitasnya di pagi hari.
Tama pergi lagi ke kampus, berusaha untuk menjernihkan pikirannya dengan membeli jajan di cafetaria kampus. Tidak lama kemudian, Tama mendengarkan percakapan dari tiga orang temannya, yang juga sedang melihat Tama dengan hati-hati.

“Woi woi, ada bocah tukang ngeluh tuh”. Ujar Alan sambil memberitahu teman-temannya akan kehadiran Tama.

“Hah, siapa sih? Ga ngerti gue”. Kania kebingungan dengan ujaran Alan.

“Itu tuh, si Tama. Skripsi revision mulu udah ngeluh-ngeluh ae di sosmed. Gimana coba kalo udah kerja ckckck”. Putro menanggapi Alan dan Kania.

“Hmm, emang kenapa dah”. Kania masih kebingungan.

“Gegara ceritanya si Yadi tuh, dia digas Tama, eh abis itu Tama update di Twitter, langsung deh Yadi mulai gas balik. Banjir dah tu Twitter nya si Tama. Mampus lu, Tam”. Alan melanjutkan ujarannya tersebut, memperjelas segalanya.

Tama dari kejauhan hanya bisa terdiam, menahan berbagai kekesalan yang sudah menumpuk sejak beberapa hari yang lalu, dan pergi sambil membawa jajanan yang dia beli sebelumnya. Kepergian Tama ini pun masih diperhatikan oleh tiga temannya tersebut.

Tama sudah di kamar lagi, dan duduk di depan laptopnya dengan tatapan kosong, seakan tak bernyawa. Tama merasa kebingungan untuk merevisi laporan skripsinya, dengan merenungkan segala kekesalan yang dia alami akhir-akhir ini, mulai dari tuntutan Bapak untuk segera menyelesaikan kuliah, dosen pembimbing yang tak kunjung memberikan ACC, sampai komentar-komentar pedas yang menyambangi Twitter nya, yang ternyata didalangi oleh Yadi.

Tama, yang berusaha kembali menjernihkan pikirannya, mengambil buku catatannya, kemudian menulis dan menggambarkan sesuatu, mengutarakan kekesalan yang dia alami saat itu, berakhir dengan sketsa, yang mengimplikasikan bahwa Yadi lah dalang dari segala kekesalannya.

Kemudian, Tama mengambil HP, dan berusaha menelepon Yadi. Tidak butuh waktu lama untuk tersambung dengan Yadi. Dan terjadilah percakapan berikut.

“Halo, Yad”

“Iya Tam, kenapa?”

“Gue pengen ketemu nih sama lu. Lagi nganggur kaga?”

“Kebetulan banget, gue lagi nganggur ini. Mau ketemuan?”

“Yaudah ……………”

Percakapan tersebut berlanjut, sampai akhirnya Tama menutup telepon.

Yadi, berjalan di lorong sepi nan remang-remang. Di belakangnya, muncul sesosok pria bertopeng dengan jaket, mengikuti Yadi diam-diam sambil membawa kayu panjang. Tak lama kemudian, sosok bertopeng berlari menerjang kepala Yadi dengan kayu tersebut. Yadi jatuh tersungkur dan mengerang kesakitan. Pria bertopeng tersebut kembali memukul Yadi di bagian kepala, seketika membuat Yadi pingsan. Walaupun pingsan, Yadi tetap dipukul, sampai akhirnya tubuh Yadi bersimbah darah karena rentetan pukulan dengan kayu tersebut.

Melihat darah yang bersimbah, pria bertopeng tersebut membuang kayunya, dan membuka topengnya, menunjukkan wajah aslinya, yang ternyata adalah Tama. Tama hanya bisa melihat Yadi, dan menyeringai ringan, merasa puas.

EPILOG

Tama terbangun di pagi hari, langsung menghampiri laptopnya, kembali melanjutkan revisi laporan skripsinya.

Setelah menyelesaikan revisinya, Tama bergegas menuju ke kampus, kembali menemui dosen pembimbingnya. Tama akhirnya bertemu dengan dosen pembimbingnya, dan tidak butuh waktu lama untuk mendapatkan ACC, membuat Tama dapat segera mengurus sidang skripsinya.

Beberapa minggu kemudian, dengan kemeja putih, dasi hitam, dan celana kain hitam layaknya mahasiswa baru, ditambah dengan selempang, menandakan dirinya ‘telah lulus’ setelah menanti cukup lama.

Tama bergegas pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, Tama disambut oleh Bapak. Tama menceritakan sidangnya, dan kemudian berpelukan dengan Bapak. Di balik pelukannya, Tama tersenyum kecil mengerikan, dengan menutup segala hal yang terjadi, membentuk Tama yang akhirnya ‘mengatasi’ depresinya.

Comments

Popular posts from this blog

Cara Menjadi 'Kritikus' Film Terkenal di Platform Digital dalam Waktu Singkat

Halu bersama 'Here We Go Again / Fanboi' dari Ardhito Pramono

Girl from Nowhere, Kritis dan Kelam