Heist di Darah Daging Masih Kurang? Inilah Penyebabnya. (SPOILER ALERT)


Darah Daging adalah satu dari banyak film Indonesia yang mewarnai akhir tahun 2019 ini. Pada minggu-minggu perilisannya, Pada industri film lokal sendiri, Darah Daging bersaing dengan Eggnoid yang sudah ramai dibicarakan, yang notabene nya adalah adaptasi webtoon laris dari Archie the Red Cat. Belum lagi Darah Daging ini juga kudu bersaing dengan film-film Hollywood yang sudah tayang sebelumnya, salah satunya adalah Jumanji: The Next Level dan Frozen 2 yang bahkan masih santai-santai saja mewarnai bioskop-bioskop disini.

Saya sendiri memiliki mixed feelings terhadap Darah Daging, ya karena Darah Daging ini memiliki premis yang menurut saya out-of-the-box jika dibanding film-film drama maupun horror yang seringkali mewarnai bioskop lokal. Namun premis menarik ini nyatanya tidak bisa menutupi beberapa kebobrokan yang dimiliki Darah Daging ini.

Sebelumnya, saya ingin mengingatkan bahwa hal-hal yang saya tulis dibawah ini berpotensi spoiler, jadi saya akan katakan SPOILER ALERT dengan lantang. Apabila sudah menonton Darah Daging, atau tidak keberatan dengan spoiler, ya sudah lanjut saja bacanya ye. Kalo keberatan, ya sudah nonton dulu Darah Daging kalo masih ada, terus balik lagi ke sini. Gampang kan? Gampang dong!

1. Penyamaran Saat Heist yang Kurang Rapi

Para pelaku heist di Darah Daging ini menggunakan teknik penyamaran yang terkesan seadanya, dengan menggunakan kaos oblong, celana jeans, dan full-face helmet tanpa kehadiran visor. Iya, kalian ngga salah baca, FULL-FACE HELMET TANPA VISOR. Sebenarnya tidak ada masalah apabila sang pelaku ingin menggunakan helm untuk menyamarkan identitasnya, tapi kalo ngga ada visor nya, apanya yang mau disamarin dah. Justru karena adanya helm ini, malah bikin sisi misterius pelakunya hilang di mata sandera, dan bisa jadi alat untuk melawan balik para pelakunya, kalo sandera di Darah Daging mampu melakukan hal-hal seberani itu hahaha.

2. Pamer Senjata di Jalanan dengan Bebas, Tanpa Hambatan Berarti

Hal absurd ini berawal dari satu adegan, dimana salah satu pelaku heist membagikan senjata-senjata yang dibawa kepada masing-masing anggota heist. Lah, kok bagi-bagi senjata malah dibilang absurd? Sabar sabar, kalo bagiinnya di alley yang agak remang-remang sih masih make sense ya. Lha ini, bagiinnya di trotoar, cuman ketutupan beberapa mobil yang parkir disitu, dan ada lumayan banyak orang yang berseliweran disana loh. Dan anehnya lagi, ORANG-ORANG NGGA CURIGA SAMA SEKALI LOHH, EDAN OPO ORA KUWI HAH. Ke-absurd-an nya tidak hanya sampai disitu, karena ketika heist nya gone wrong, salah satu pelakunya kabur membawa hasil rampokan dan dikejar oleh anggota lainnya, yang tentu saja menginginkan hasil rampokan tersebut. Kok ginian aneh sih bro, lu ga sehat ya? Bukan gitu, mereka ini kejar-kejarannya pake nenteng senjata laras panjang (kalo ga salah itu AK-47), yang bahkan orang-orang abaikan, ya kaya ngeliat mobil butut aja gitu, diliatin doang kaga ada reaksi apa-apa.

3. Pelaku Heist yang Tidak Jauh dari Kesan 'Amatiran'

Kalo pelaku heist yang 'amatiran' sih pasti ada lah ya di setiap film heist drama seperti Darah Daging ini. Masalahnya nih, sebagian besar pelaku heist disini berasa amatiran, kecuali si badass karakternya Tanta Ginting yang nyuplai senjata buat mereka semua. Megang senjata masih tegang, buka brankas kelewat ngasal, sampai gestur yang seakan menandakan bahwa sebagian besar dari mereka ya 'amatiran' aja. Gini nih, alasan kalian ngelakuin heist udah kuat nih, tapi kenapa kalian ngga berusaha buat heist ini beres sih? Intinya sih, kadar ke-badass-an mereka ini masih kurang, ya mungkin demi jadi plot device semata lah, yang bisa saya cukup maklumi.

4. Perencanaan Heist yang Terkesan Amburadul

Adegan dari perencanaan heist di Darah Daging ini tidak ada, dan sepertinya dibuat off-screen saja, mungkin demi memangkas durasi, atau mungkin ingin meng-emphasize ke drama-drama yang muncul di akhir film? Bisa jadi. Tapi yang jelas, tiga hal yang disebutkan diatas, jelas-jelas karena perencanaan heist yang terasa kurang matang. Pelaku 'amatiran', pembagian tugas ga jelas, beberapa orang bertindak seenaknya, penyamaran yang masih kurang, dan sepertinya masih ada lagi yang membuat heist ini jadi terkesan amburadul, dan jatuhnya jadi kurang memorable, terkecuali di beberapa bagian dimana karakter-karakternya mulai mati hohoho.


Ya begitulah, bacotan saya mengenai beberapa hal yang bikin heist di Darah Daging ini menjadi kurang berkesan, padahal potensinya sendiri cukup besar loh. Seriusan, kalo eksekusinya dibikin dengan rapi, bisa jadi heist ini menjadi salah satu momen film Indonesia yang paling ikonik, minimal versi saya.

Terimakasih buat semuanya yang udah baca bacotan ini. Saya terbuka banget sama respon-respon dari kalian semua, so just hit me up on any social media platform you want, either Twitter, Instagram, or even Facebook.

Sampai jumpa di bacotan-bacotan selanjutnya!

Comments

Popular posts from this blog

Cara Menjadi 'Kritikus' Film Terkenal di Platform Digital dalam Waktu Singkat

Halu bersama 'Here We Go Again / Fanboi' dari Ardhito Pramono

Girl from Nowhere, Kritis dan Kelam